Selasa, 16 April 2013

Tag Line Baru PKS

" Bersih Peduli Profesional " adalah motto Partai Keadilan Sejahtera. Sudah sekian lamanya yaitu sekitar 3 kali pemilu PK Sejahtera memakai motto tersebut dalam semua aksinya. mudah-mudahan semua amal yang telah ditunaikan senantiasa akan membawa Partai berlambang Bulan sabit & Padi itu mendapatkan barokah & rahmat Alloh SWT. serta menjadi 3 besar. amien.

















Pada Milad PKS tahun ini, Insya Alloh tanggal 18 April 2013 yanga akan dirayakan di kota Semarang - Jawa Tengah, PK Sejahtera akan mengusung Tagline Baru Yaitu : " Cinta Kerja Harmoni ". Harapannya tentu PKS ingin menyampaikan Rasa Cintanya Kepada Masyarakat Indonesia dengan bekerja, beramal, berpolitik, dll dengan landasan Cinta sehingga menimbulkan Harmoni dalam Masyarakat & Bangsa Indonesia.

Suasana Politik, Sosial Masyarakat yang lagi hangat, Keamanan yang kurang kondusif dirasakan oleh masyarakat Indonesia saat ini membuat Tagline baru itu sangat mungkin untuk menjadi motivasi kerja & beramal, sehingga masyarakat menyambut Cintanya PKS.

Bravo : " PKS 3 Besar "
Met Milad....


Read more »

Selasa, 26 Maret 2013

Tarbiyah itu Menumbuhkembangkan

Tarbiyah itu Menumbuhkembangkan

By: Nandang Burhanudin
***

Alkisah, ada 3 santri di sebuah pesantren pinggiran Jabar. Ketiga santri ini masyhur sebagai santri yang cerdas-cekatan-berakhlak baik-dan senantiasa menjadi pelopor dalam pengabdian kepada masyarakat.
Tipe santri pertama: Berotak brilian. Fasih berbahasa Arab. Lulusan terbaik. Juga pernah mendapatkan beasiswa ke LN. Tapi ia lebih memilih mengabdi Full di pesantren, mengajar. Ia turuti permintaan sang Kiai, "Sudah buat apa jauh-jauh mencari ilmu. Di pesantren ini saja, ilmu berlimpah. Mau cari apa, pasti ada!"
Tipe santri kedua: Berotak cerdas. Menguasai ilmu qiroah. Pandai berceramah. Hingga ia selalu diundang ke kota-kota besar. Ia turuti permintaan Kiai-nya. Namun di sela-sela hari dimana ia tidak ada jadwal mengajar, ia isi untuk mengisi pengajian di kota-kota dan menjalin silaturahmi lebih luas.
Tipe santri ketiga: Berotak cergas. Mahir berbahasa Arab. Memiliki hobi seni menyanyi. Ia turuti permintaan Kiai untuk mengabdi beberapa tahun. Hingga saat ada kesempatan belajar di luar kota hingga Luar Negeri, ia pamit.
20 Tahun kemudian, ketiga santri tersebut mencatat sejarah masing-masing. Mereka sudah berumah tangga. Semua beranak banyak. Bahkan santri kedua, dikaruniai dua istri dan belasan anak.
Santri pertama: Gaji dari hasil mengajar sangat kecil, tidak cukup menopang kebutuhan anak-anaknya. Sang Kiai telah wafat. Akhirnya ia memilih mencari penghasilan tambahan, mulai dari menjadi sopir angkutan kota hingga berniat menjadi TKI di negara Teluk.
Santri kedua: Gaji dari pesantren jelas sangat kecil. Namun ia mampu sejahtera karena sering mengisi pengajian di kota-kota. Bahkan ia telah mendirikan pesantren, dengan jumlah santri yang cukup banyak.
Santri ketiga: Ia tak terlalu memperhitungkan gaji di pesantren. Ia lebih banyak membangun jaringan. Aktif di bidang pengkaderan dan rekrutmen santri-santri, untuk kemudian diarahkan pada satu pembinaan yang disebut tarbiyah. Karena baginya, tarbiyah telah menjadikan dirinya sebagai orang pinggiran menjadi orang terpandang. Walau dengan kecerdasan yang masih jauh dari santri pertama.
Apa yang membuat santri ketiga lebih melejit dibanding santri pertama dan kedua? Padahal sama-sama berotak pintar dan berada dalam satu lembaga pendidikan?
Tarbiyah menjadikan santri ketiga ini, melesat hingga baru-baru ini menjadi tokoh nasional setelah ditunjuk sebagai sekjen salah satu partai. Sebelumnya ia dikenal luas khalayak dengan nasyid-nasyidnya, selain sebagai konsultan syariah sesuai basis keilmuan semasa belajar. Urusan luar negeri, tidak lagi melulu Luar Nagrek. Tapi betul-betul sudah melanglangbuana, hingga ke pelbagai belahan dunia.
***
Sahabat, banyak yang salah kaprah ketika kita aktif dalam tarbiyah. Saya tidak akan membahas tentang sejarah tarbiyah zaman Rasul. Tapi belajar dari ketiga santri di atas, saya menemukan bahwa ketika kita memasuki gerbang pembinaan tarbiyah, maka sebenarnya kita diarahkan untuk menjadi 4 sosok berikut:
1. Ujung Tombak
Ibarat busur panah, dengan tarbiyah kita dipersiapkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang siap dilesatkan mencapai sasaran dari universalitas dakwah. Target dari dakwah sudah jelas. Ta'rif-Tanfidz-Takwin adalah sasaran-sasaran di setiap fase tarbiyah.
Menjadi pribadi ahli ibadah-berkarakter 10 muwashofat, adalah upaya maksimal yang hendak dicapai tarbiyah. Maka bisa dipastikan, akan ada orang yang 'alim-ahli ibadah, namun ia berada di zona nyaman. Ada keengganan tak terucapkan, saat ia harus menjadi ujung tombak dari semua pengorbanan.
Dalam tarbiyah, siapapun dan apapun latarbelakang kita, maka kita harus siap menjadi prajurit sebelum menjadi komandan. Karena komandan yang otpimum, lahir dari jiwa prajurit yang maksimum.
2. Ujung Tembok
Lazimnya sebuah tembok, tarbiyah mengarahkan kader untuk menjadi jiwa-jiwa yang indah dipandang, kuat diterjang badai, tak lekang diguyur hujan. Sehat ruhiah harus seiring dengan kesehatan fisik. Pun sebaliknya.
Karena jiwa-jiwa yang ditarbiyah, harus siap menghadapi segala keadaan dan cuaca. Hujan-panas-kemarau-dingin. Atau cuaca fitnah-bully-ghibah-caci maki. Semua harus dihadapi dengan keramahan, namun tetap tegas dan tegar sekuat tembok.
Tarbiyah sama sekali tidak mentolelir jiwa-jiwa yang ringkih-galau-lebay-banyak alasan, atau jiwa-jiwa yang kasar, pengadil (salah benar, muslim-kafir), jiwa-jiwa yang antipati apalagi suka mengeluh.
3. Ujung Tambak
Maksud tambak di sini adalah, tarbiyah membina semua jiwa-jiwa agar mampu menemukan potensi terbaik yang dimilikinya untuk kemudian disumbangkan bagi kemajuan dakwah dan kejayaan Islam-Muslimin.
Lulusan Timteng, Eropa, hingga tanah air diarahkan memeras otak-berpeluh keringat-bergerak cepat agar mampu memberikan jawaban atas setiap problematika yang dihadapi umat. Mulai dari problem kayakinan-kesehatan-budaya-politik-ekonomi-sains teknologi-hingga pertanian.
Kehadiran jiwa-jiwa tertarbiyah dalam setiap keadaan, susah-senang; bencana-bahagia; carut marut-damai sentosa. Bahkan jiwa-jiwa tarbiyah harus menjadi penyeimbang dari semua kondisi. Jika senang tak lupa daratan. Jika susah tak perlu keluh kesah. Saat carut-marut tak perlu makin sengkarut. Saat aman sentosa tak lup pada Allah Ta'ala.
Tarbiyah berfusngi memoles, bukan mengubah. Sebagaimana Umar yang keras dan Abu Bakar yang lebut, setelah ditarbiyah baginda Rasul tidak lantas berbalik. Umar tetap dengan sikap kerasnya, penuh prinsip, namun semua dipoles agar diarahkan semakin indah demi kebenaran. Sebagaimana Abu Bakar pun demikian.
Jadi tarbiyah bukanlah media sulap: Sim salabim semua berubah dari yang biasa jadi luarbiasa, from zero to hero, atau from koko to zoro. Sama sekali tidak. Tarbiyah adalah menggali potensi-potensi/bakat-bakat terpendam dan mengartikulasikannya dalam kehidupan.
4. Ujung Tombok
Apapun selama di dunia ini, pasti membutuhkan uang-materi-harta. Tarbiyah mendidik jiwa-jiwa agar siap mengorbankan apa yang mampu dikorbankan. Semua demi peran memberikan sumbangsih yang mampu diberikan. Tenaga-fikiran-harta-waktu adalah hal lumrah dalam tarbiyah. Karena kelemahan umat Islam bukan hanya disebabkan rekayasa dan konspirasi musuh, tapi lebih dikarenakan jiwa-jiwa muslimnya enggan berkontribusi maksimal-optimal bagi kejayaan Islam itu sendiri.
Shunduquna juyuubuna, tidak pernah berubah menjad Shunduqunaa APBD-unaa. Karena jiwa-jiwa tertarbiyah akan siap menjadi ujung tambak, bagi roda perjalanan dakwah hingga ajal menjemput: dakwah menjadi pemenang atau kita telah banyak berkontribusi positif.
Ingat One Man One Dollar, atau iuran bulanan yang rutin dikeluarkan, hingga sumbangan sukarela untuk menjalani setiap fase-fase perjuangan.
Kesimpulan
Sahabat, betul saat sebuah adagium mengatakan, "Tarbiyah bukan segala-galanya. Tapi segala-galanya bisa berawal dari tarbiyah."
Dalam tarbiyah kita bisa:
1. Berkawan dengan orang yang multi latarbelakang. Karena tarbiyah anti fanatisme suku, golongan, almamater, hingga gelar-kedudukan-kekayaan. Jiwa paling bertakwa kepada Allah saja yang paling patut dijadikan teladan.
2. Bersaudara dengan orang yang asalnya multiinterest, multitabiat-watak, juga multidimensi. Karena tarbiyah mendidik jiwa-jiwa agar berusaha semua LILLAAH bukan Lil-Jaah (Kehormatan-kedudukan). Jika pun ada jiwa tertarbiyah yang kebetulan jadi Aleg-Bupati/Walkot-Gubernur-Menteri, spirit LILLAAH adalah nomor 1. Mereka akan tetap aktif dalam pembinaan tarbiyah. Bagaimanapun posisi dan kesibukan.
3. Berjuang dalam kebersamaan, melakukan hal-hal yang logis-rasional-terukur, jauh dari utopia-euforia-atau hanya klaim-klaim dewa yang tak nyata. Kendati demikian, tetap membuka diri untuk menghargai perjuangan yang bermuara pada kejayaan umat.

Jadi hari gini salah niat dalam tarbiyah? Apa kata dunia ....!?

Sumber :pkspiyungan.org
Read more »

KPK Sudah Hilang Akal Hadapi LHI | by @ridlwanjogja





Ridlwan 
@ridlwanjogja
Jurnalis



Sekali kali pagi pagi serius ah..

  1. Hampir semua koran memuat berita #KPK kenakan pasal pencucian uang utk LHI . Ini seksi buat media ?

  2. Rupanya #KPK ingin men Djoko Susilo - kan LHI, membuat news yg sama.

  3. Minggu2 ini pasti ramai #KPK segel ini kek segel itu kek, lalu fotografer memotretnya.

  4. Ini operasi #KPK buka aurat tersangka. Setelah Djoko lalu LHI.

  5. Lihatlah Djoko, wajah istri-istrinya dijadikan karikatur malah oleh majalah Detik.

  6. Nalar pers sudah kalap, apapun yang #KPK pasangi plang sita dianggap hasil uang haram.

  7. Padahal Johanbudisusiloprabowo #KPK sendiri bilang, benar gaknya tunggu pengadilan.

  8. Johan #KPK : yang menentukan aset itu darimana nanti hakim, bukan KPK bukan pengacara tersangka.

  9. Enak ya masang plang dulu urusan salah nanti. Yg punya Udah terlanjur dihajar pers.

  10. Aset Djoko di Madiun yg hasil warisan pun disita #KPK, aset LHI bakalan juga sama.

  11. Publik nanti disodori foto dan data yang belum tentu itu uang haram LHI. #KPK asal sita?

  12. Ingat background LHI ini pengusaha, sebelum jd anggota dpr, sebelum jd presiden pks.

  13. Sy inget LHI pernah galang malam amal utk Palestina di hotel Sultan, dapatnya miliaran dr teman2 bisnisnya.

  14. Apakah uang amal itu nanti oleh #KPK dianggap duit haram? Kejar sana ke jalur Gaza.

  15. #KPK buka aurat, nanti kehidupan pribadi juga diungkit-ungkit semuanya. Liat Djoko Susilo.

  16. Apa TPPU bisa dikenakan langsung seperti itu? Apa tidak harus terkait kasusnya?

  17. Pembuktian kasus dagingnya saja rumit, sampai2 #KPK minta AD ART PKS.

  18. #KPK perlu membuktikan apa ada di AD ART Presiden partai bisa memerintah kadernya yg jd menteri?

  19. #KPK awalnya menilai pertemuan medan jd deal kongkalikong ternyata bukan.

  20. Pertemuan Medan justru cari solusi agar krisis daging teratasi bukan bahas nego duit haram.

  21. Kasus pokoknya saja belum pas konstruksinya, ini langsung pakai TPPU ? LHI di Djoko Susilokan.

  22. Nanti aset aset lama LHI jauh sebelum jadi Presiden PKS juga akan disita dan dipamerkan ke publik?

  23. Misal aset pemberian dari jaringan dakwah di luar negeri , sebelum jadi DPR dan sebelum jd Presiden PKS.

  24. Siapa saja tersangka korupsi yg kena TPPU ? Apa ada tebang pilih ? Anggie kena nggak?

  25. Hebat lo #KPK ini penciumannya soal aset tajam banget, kemanapun dan dimanapun plang sita siap dipasang.

  26. Ibarat Komodo yang bs mencium mangsa dalam jarak 9 km, #KPK mencium aset orang di Indonesia.

  27. Mengendus-endus, kalau dianggap bau, dipasang plang sita. Kalau salah? Ya nggak papa kan #KPK.

  28. Ayo dong dukung pemberantasan korupsi dengan nalar sehat, jangan fanatik dan radikal fundamentalis #KPK

  29. Fanatik, radikal dan bigot KPK adalah mengimani #KPK tak pernah salah, KPK suci dan apapun yg mereka lakukan benar.

  30. Dan hanya kepada Allah lah kita berlindung atas aurat-aurat dan aib kita.

*https://twitter.com/ridlwanjogja
Read more »

Senin, 25 Maret 2013

PKS: Itu Jo...!!! | Konsolidasi Kader PKS Manado Bersama Anis Matta


Mardani Ali Sera, Humas DPP PKS, melalui akun twitternya @MardaniPKS menyampaikan acara konsolidasi kader PKS Manado bersama Anis Matta, Senin (25/3/2013). Berikut penyampaiannya...

***

Di Manado menemani Pak Anis Matta konsolidasi kader: hadirin memenuhi ballroom Peninsula Hotel. PKS: Itu Jo...!!!

Berikut taujih yang disampaikan Presiden PKS Anis Matta:

  1. Atas nama cinta kita bertemu. Atas nama Cinta kita akan bekerja utk Indonesia.

  2. Misi besar menjadikan Sulut etalase besar bagi keterbukaan PKS utk kita persembahkan bg Indonesia.

  3. Kata Nabi Saw Sesungguhnya kekuatan itu pada pukulan pertama. Kata orang Selatan: pelaut ulung lahir dlm badai.

  4. Pepatah Arab: Pukulan yg tdk mematikanmu pasti akan membuatmu kuat.

  5. Kita bicara ttg masa depan. Jgn biarkan orang lain membuat sejarah kita. Masa depan kita usaha+kehendak Allah.

  6. Apa masa depan yg akan kita ciptakan di Sulut? Ini adalah etalase masa depan PKS. Hub antar agama disini.

  7. Sulut daerah paling beragam di Indonesia. Kemenangan PKS disini memberi contoh bagaimana hubungan itu.

  8. Saya kenal Indonesia dari Makasar ke Ambon& Tual. Sekolah SD di Mathias Katolik& balik Ambom sklh Protestan.

  9. Masuk pesantren Muhamadiyah dan berinteraksi dg kawan NU. Kuliah di Univ Saudi&ikut Lemhannas. Beragam.

  10. Saat liburan kuliah, saya naik bis satu2 menyusuri wilayah Jawa. Kemudian wil Sumatera. Juga wil lain.

  11. Naik pswt dari Sabang sampai Merauke 9 jam. Sama spt Jakarta Jeddah. Luas sekali Indonesia ini.

  12. Dari Timur Tengah ke Maroko, Tunis dll cuma dua jam spt Jakarta-Makasar.

  13. Waktu kecil kawan saya Ambon, Cina dan Arab. Damai. Di Jakarta kenalan Batak, Jawa dan wil luas INA.

  14. Ada 300 suku dg 300 bahasa. Sangat beragam. Dipisahkan laut. Ekstrem perbedaan namun saling rindu.

  15. Lagu daerah kita lagu rindu krn perpisahan. Karena kita berjauhan kita saling berdekatan.

  16. Karena kita beda bahasa kita perlu satu bahasa: Indonesia. Itulah Indonesia.

  17. Apa nilai utama dr Indonesia dlm satu kata? HARMONI. Kita paling cinta harmoni.

  18. Pakaian paling terkenal: BATIK. Rumit tapi sederhana dalam HARMONI. Makanan terkenal? Gado2.

  19. Di INA ada fenomena unik: sblm merdeka banyak aliran ideologi. Gimana menyatukannya? Sukarno dg Pancasila.

  20. Bung Karno jika kita tingkas Pancasila, satu kata: Gotong Royong. Krn itu semua dpt tempat termasuk minoritas.

  21. Menjadi Indonesia takdir, agama kita pilih sendiri. Ini dasar negara tegak.Saya yakin keberagaman jd kekuatan.

  22. Kita harus membongkar mitos. Hambatan menang jk kita anggap orang lain lbh kuat. Harus kita bangun sendiri.

  23. Bongkar mitos: yg lain kuat, yg lain punya uang dll. Yg perlu kita buat proposal kemenangan di kepala kita.

  24. Tdk ada gunung di depan kita. Saat kita berjalan&ada rintangan kita tdk rasakan krn tdk memikirkannya.

  25. Tempat ini sdh terlalu sering dikunjungi. Dulu sedikit, skrg gedung ini tdk muat. Apa artinya?

  26. Apa artinya? Amal yg ikhlas tdk akan mati. Usaha mematikannya justru kian menguatkannya.

  27. Jika mind set sdh jelas: ada yg dpt menghalangi? TIDAK ADA. Perlu satu: Seni Menaklukan Hati!

  28. Jgn berpikir uang&media yg merebut hati. TIDAK. Hati itu milik Allah. Perlu tahu Pintu Hati.

  29. Pertempuran kita berbeda. Ini pertempuran hati! Ada kanan ada kiri. Ada hati, disambut cinta.

  30. Harus ada cinta didada kita. Disalurkan ke mata dan tangan. Tatap dalam2 dan ajak bersama.

  31. Kita tdk bicara strategi pemenangan pemilu. Tapi bicara tentang merebut hati rakyat utk kemenangan kita.

  32. Kita ingin hati rakyat, biarkan suara ikut dg sendirinya. Skrg politik sangat menakutkan. Horor.

  33. Kita akan ubah menjadi permainan yg menyenangkan dg cinta. Tanpa cinta yg ada konspirasi.

  34. Berikan sentuhan cinta pd politik. Agar generasi muda tertarik. Itu sebabnya permainan itu dimulai dr Sulut.

  35. Kader PKS keluar dr permainan horor dlm politik menuju sentuhan hati. Datangi masjid, gereja, pasar dg cinta.

  36. Titik kesamaan kita jauh lbh banyak dr perbedaan.Dg pertemuan hati, merasuklah ke dalam hati rakyat Indonesia.
          Sumber : pkspiyungan.org
Read more »

FAKSI-FAKSI SEBAB PKS BESAR



FAKSI-FAKSI SEBAB PKS BESAR
Faksi Keadilan VS Faksi Sejahtera
Faksi Suara VS Faksi Syariah
Faksi Asholah Dakwah VS Faksi terbuka
Faksi Tua VS Faksi Muda
Faksi Orientasi Religi VS Faksi Orientasi Politik

Faksi- faksi tersebut di sematkan para Pengamat, melihat dinamika partai berlambang bulan sabit terbelah tersebut, Burhanudin Muhtadi, doktor peneliti LSI pernah menuliskan didalam bukunya yang berjudul “Dilema PKS” bahwa didalam tubuh PKS terdapat dua faksi yang berseberangan. Faksi-faksi itu antara lain faksi kesejahteraan dan faksi keadilan.

Dosen politik Universitas Indonesia yang juga peneliti PKS, Arief Munandar, mengoreksi anggapan lama tersebut. “Di dalam PKS, yang terjadi bukan faksionalisasi yang kaku. Yang ada adalah faksionalisasi yang terjadi secara dinamis,” katanya dalam diskusi di kantor Tempo, Selasa, 5 Februari 2013.”Jadi tidak ada faksionalisasi tradisional di mana faksi-faksi yang terdikotomi secara rigid,” kata Arief, yang disertasinya mengupas seluk-beluk PKS ini. Dia juga menolak asumsi ada Faksi Keadilan dan Faksi Sejahtera di dalam PKS. Karena tidak ada dikotomi yang tegas, maka tidak mudah menggolongkan kader PKS yang mana yang masuk dalam faksi yang mana. “Betul faksionalisasi ada, tapi tidak serigid yang dibayangkan orang,” kata Arief. Menurut Arief, faksionalisasi di PKS terjadi antara kelompok yang lebih berorientasi pada gerakan religius (religious movement oriented) dan kelompok yang berorientasi pada partai politik (political party oriented).

Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan (PK) cikal bakal PKS buka-bukaan soal isi dapur bekas partainya. Yusuf yang sudah di pecat PKS ini menilai, kini PKS dikuasai kelompok muda Anis Matta Cs.“Ada kubu muda dan kubu tua. Kubu muda Anis Matta, Luthfi Hasan didukung yang tertua Hilmi Aminudin. Mereka menguasai dan memanfaatkan struktur,” kata Yusuf di gedung DPR, Jumat (18/3/2011). Detik News

Dinamika yang berkembang di internal partai di jadikan para pengamat untuk menyematkan Faksi-Faksi di tubuh Partai, bukan isapan Jempol belaka adanya isu faksi-Faksi di tubuh PKS Benar adanya, bahwa dasar me­rubah PKS sebagai partai ter­buka adanya kepu­tusan di Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PKS di Bali pada tahun 2008, isu itu terus di gulirkan yusuf supendi untuk memecah belah PKS.

Partai Terbuka jika itu yang menjadi titik Perpecahan di tubuh PKS, Analisa yang salah dan Keliru, karma Hasil Pemilu 2009 PKS berhasil menaikkan Perolehan Kursi suara pemilu sebelumnya, jawabnya isu Faksi-faksi dalam Tubuh PKS tidak terbukti, tidak Benar, Faksi- Faksi adalah suatu Pengakuan bahwa PKS Besar.

Soliditas dan Loyalitas yang di miliki kader PKS, Kepercayaan dalam tingkatan Tsiqoh yang membuat Partai ini tetap tegar di hantam Tsunami politik istilah lebih popular tahun politik, Perang dingin politik, isu yang di gulirkan beberapa kalangan mampu di Tangkis dengan istilah “Cinta” yang di Populerkan Aniss Matta (Soekarno Muda) , Langkah jitu dan tepat, Konsolidasi yang di lakukan anis matta benar membangunkan macan tidur.

Kemenangan Pilkada yang di raih kader- kader PKS, hasil survey-survei terbaru juga mementahkan interpretasi keliru para pengamat PKS akan terjun bebas, sebaliknya PKS akan naik menuju 3 besar.
Yaaaa Faksi-Faksi sebab PKS besar

Oleh : Naim Gerrab ( www.Kompasiana.com )
 
Read more »

Kamis, 21 Maret 2013

DAYA TAHAN PKS


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1KOB3itwkuCtBLOR6Zpa82xPxs3wn7u0UBcHBrSTFR00RCwnzbiEY8mp5KXI17bbdasfqLz01-nlao_8E1OY2jsh7M7081hLMxmNvBYBR3W9M4qGxDUBGHx-t1jaoabZwJoDtRf4nObhm/s1600/pks-survive.jpg

Survivalitas PKS
Oleh  DONNY SYOFYAN (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

 Partai Keadilan Se­jah­tera (PKS) betul-betul menjadi balon dalam lanskap per­politikan Tanah Air dewasa ini. Makin ditekan dan dipo­jokkan justru PKS makin kuat, solid, dan terbang dengan kekuatannya. Layaknya karet, semakin partai ini ditekan semakin kuat dorongan untuk memantul. Pasca ditetap­kannya Luthfi Hasan Ishaq (LHI), mantan Presiden PKS sebagai tersangka KPK, PKS justru mendulang kemenangan dalam sejumlah pilkada.

Dalam pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara jago PKS yang ikut bertanding meme­nangi pertempuran. Hingga saat ini, segenap komentar, prediksi, atau hujatan publik dan media terhadap PKS menjadi terjun bebas (fall free). Bagi kalangan internal PKS sendiri, kemenangan dalam dua pilkada tersebut telah mewujud sebagai tam­bahan darah segar bagi per­juangan mereka untuk mem­balikkan serangan yang mem­babi buta, argumen-argumen kasar dan keterlaluan yang secara terus-menerus meng­hajar partai dakwah tersebut.

Boleh saja banyak pihak berdalih bahwa kemenangan dua pilkada tersebut sepenuh­nya bukanlah kemenangan PKS. Ada yang menganggap bahwa kemenangan dua pilka­da itu adalah kemenangan kolektif sejumlah partai kare­na pasangan yang diusung adalah kolaborasi beberapa partai. Pihak lain juga menilai bahwa kemenangan pada dua pilkada tersebut sejatinya adalah kemenangan golput. Jumlah golput di Jabar dan Sumut dikabarkan sekitar lima puluh persen dari tota­litas pemilih.

Analisa de­mikian tentu sah-sah saja meskipun dalam banyak hal mulai terlihat galau dan tidak rancak dalam mengakui se­buah objektivitas. Hanya saja, menyalahkan kemenangan PKS dalam dua pilkada di atas sebagai keba­ngunan golput juga sesuatu yang juga berlebihan. Mereka yang tidak memilih bisa jadi memiliki banyak alasan yang berbeda. Ada yang tidak memilih karena menganggap berdemokrasi itu haram. Ada pula yang tidak memilih karena sedang dirawat di rumah sakit. Ada yang men­dapat musibah pada hari pencoblosan, sehingga tidak bisa memilih. Ada yang sudah bersikap apatis kepada semua parpol, ada yang tidak apatis pada parpol, namun tidak mene­mukan satu kandidat pun yang dianggapnya cocok untuk dipilih. Mungkin ada juga yang dulunya habis-habisan men­dukung kandidat tertentu, namun apa dinyana kandidat yang didukungnya tidak dilo­loskan oleh KPU. Karena itu, ia memutuskan untuk tidak memilih saja. Ada juga yang secara kebetulan sudah me­miliki agenda lain yang sudah dipastikan sejak jauh-jauh hari, dan kebetulan agenda itu jatuh pada hari pen­coblosan, sehingga ia tidak bisa memilih.

 Hemat saya, kemenangan PKS pada pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara sesung­guhnya merupakan cermin survivalitas—daya untuk tetap bertahan PKS—terha­dap tekanan dari segenap penjuru mata angin yang berdiri kokoh pada tiga ke­kuatan utama. Pertama, soliditas kader. Kekuatan utama PKS, bahkan sejak masih Partai Keadilan (PK), terletak pada sistem kaderisasinya yang terbangun kuat lewat proses tarbiyah (pembinaan) secara ketat dan gradual. Sarana tarbiyah bukanlah sekadar alat homo­genisasi atau uniformitas pemikiran dan derap langkah yang berujung pada proses cuci otak alias indoktrinisasi yang selama ini kerap dituduhkan banyak pihak, melainkan sebagai wasilah pemberian gizi jiwa yang melahirkan kader-kader PKS yang militan dan terdidik.

 Terpaan media yang secara terus menerus menggerus citra PKS dalam banyak kasus tanpa menyisakan sedikit ruang pun bagi politisi PKS untuk membela diri dan menyajikan pandangan alter­natif tidak membangun tren kutu loncat besar-besaran bagi kader PKS untuk mening­galkan kendaraan politiknya. Padahal kesempatan ini sa­ngat memungkinkan dan memiliki basis rasionalitas dan legitimasi yang kuat bagi kader partai untuk pindah haluan.

Militansi kader berbasis tarbiyah demikian membuat serangan ‘jurnalisme su’uzhan’ balik kanan seperti melempar bola ke tembok. Inilah yang membuat kader PKS memiliki daya tahan terhadap pem­beritaan yang tak berimbang, daya tangkal terhadap teka­nan isolasi sosial, maupun daya seleksi tarik menarik opini publik yang dalam banyak hal cenderung mengi­kuti arus agenda setting ke­banyakan media massa. Kader PKS sadar betul bahwa media massa bukanlah sarana tar­biyah.

Kedua, manajemen isu yang luar biasa. Banyak yang meyakini bahwa penahanan LHI oleh KPK menjadi awal rontoknya PKS bukan saja disebabkan dekatnya pemilu legislatif dan Pilpres 2014 tapi juga agenda pilkada yang bakal berserakan di banyak daerah.

Namun PKS dengan sigap membangun kuda-kuda untuk bertahan menyahut keniscayaan ancaman dengan mengganti pucuk pimpinan, yakni Anis Matta sebagai Presiden PKS yang baru. Transformasi kepe­mim­pinan ini memberikan efek ganda—defensif untuk men­jaga keutuhan kader sebagai modal politik primer dari tsunami politik dan ekspansif untuk mengonsolidasikan kader-kader terbaik partai guna menghadapi sejumlah pesta demokrasi di daerah.

Anis Matta, setidaknya hing­ga saat ini, sukses menjalankan strategi ‘kusir bendi’ dalam menggerakkan mesin politik PKS; seorang kusir lazimnya mengobrol dengan penum­pangnya sambil mengendarai kudanya. Artinya, PKS di bawah kepemimpinan Anis Matta tetap berjalan fokus ke depan seraya pada saat yang sama dengan cerdas melakukan counter sana sini terhadap sinisme elit dan pengamat lewat kerja-kerja nyata. Alih-alih menghabiskan energi dengan teori konspirasi yang sempat membuat PKS berjalan di tempat, Anis membawa PKS menjalani ‘quantum leap’ dengan meng­alihkan energi kader kepada pilkada sebagai target ter­dekat.

 Ketiga, kepemimpinan kolektif yang konsisten. Sung­guhpun Anis Matta dianggap kontributif mendongkak elek­tabilitas partai dengan kapa­bilitas yang dimilikinya—orator, kemampuan mana­jerial, penulis, dan ahli lobi—kebangunan PKS lebih terle­tak kepada kualifikasi kepe­miminan jamaah, yakni ma­jelis syura. Kolektivitas kepemim­pinan ini semakin mengu­kuhkan PKS sebagai partai kader yang tidak terperangkap pada figuritas kepemimpinan, semisal Partai Demokrat atau PDI-P.

Tak kalah krusialnya, kolektivitas kepemimpinan tersebut fungsional mencegah terjadinya kecenderungan saling menyalahkan atau mencari kambing hitam (bla­me game) di antara elit atau kader PKS. Akhirnya harus diakui bahwa kepemimpinan kolektif menjadikan fungsi kontrol dan terobosan-tero­bosan progresif dari mesin politik dalam tubuh PKS melaju dengan kecepatan maksimum. (*)

 *Harian Haluan (Jumat 22 Maret 2013)
Read more »

 

KABAR DPC

KIPRAH KEWANITAAN

KOLOM